RSS

Urutan sakramen Katolik

Sakramen Baptis / Permandian ( Uruan Pertama )

********************

artikel 1 . Materi Dasar Sakramen Baptis

Baptisan dan hidup baru
Banyak orang Protestan mengatakan dan percaya bahwa Babtis hanya sebuah simbol. Dalam Gereja Katolik Babtisan tidak hanya sebagai simbol tetapi adalah sebuah sakramen. Babtisan (menurut Gereja Katolik) membuat kita lahir baru. Dasar kitab suci dari ajaran tentang babtis ini cukup banyak antara lain:

Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” pada ayat ini Yesus menekankan pentingnya Babtis sebagai jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah.

dalam Kis 2:38 St. Petrus mengatakan “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” St. Petrus menekankan perlunya Babtis untuk pengampunan dosa dan syarat untuk menerima karunia Roh Kudus.

St. Paulus dalam Titus 3:5 “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” lalu dalam Kis 22:16 “Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!

Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa Sakramen babtis bukan hanya sebuah lambang atau simbol (jikalau itu simbol untuk apa Para Rasul menekankan perlunya Babtis?) tetapi Babtisan memang membuat kita lahir baru, karena babtisan itu berhubungan erat sekali dengan Roh Kudus yang membuat kita lahir baru. Bila kita perhatikan Yohanes 3:5 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” kata “air dan Roh” (Babtisan dan Roh Kudus) memiliki suatu hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang erat antara babtisan dan Roh Kudus yang tak terpisahkan inilah yang membuat kita memperoleh hidup baru pada saat kita dibabtis. karena hubungan yang erat antara Roh Kudus dan Babtisan sehingga ketika Paulus berbicara mengenai babtisan ia tidak menyebut Roh Kudus “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4).

Babtisan bukan perbuatan manusiawi belaka tetapi Babtis adalah tanda dan sarana Rahmat Allah (yaitu kelahiran/hidup baru) dimana Allah berkarya melalui para pelayan (Imam, Diakon, dll) yang membabtis. Jadi Babtisan adalah karya Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Babtisan tidak dapat dibedakan/dipisahkan dari Iman kepada Yesus dan dari Pencurahan Roh Kudus. Babtisan merupakan perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan Iman itu berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus lihatlah pada1 Kor 12:3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.”

Dari uraian diatas jelaslah bahwa Babtis bukan hanya sebuah simbol tetapi benar-benar membuat kita lahir baru karena peranan dari Roh Kudus yang membuat kita lahir baru didalam pembabtisan. oleh karena hal itulah St. Petrus menegaskan perlunya babtisan bagi keselamatan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya (kiasannya=air bah {lihat ayat sebelumnya untuk lebih jelas}), yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Pet 3:21)

Babtis cara Selam
Setelah berbicara banyak mengenai Hakekat Babtis yang membuat kita lahir baru, Ada baiknya kita membahas mengenai masalah Babtis selam. Babtis selam dalam gereja Pantekosta  dimutlakkan dan mereka terkadang (tidak semuanya) mengatakan babtisan selain cara selam tidak sah.

secara umum terkadang mereka mengajukan bukti dari Matius 3:16 “Yesus segera keluar dari air” kata “keluar dari air” menurut mereka berarti Yesus sebelumnya berada didalam air. Menurut kami kata “keluar dari air” tidak menunjukkan berapa banyak bagian tubuh yang terendam. (yang menarik bahwa lukisan kristen kuno tentang  pembabtisan Yesus pada Katakombe, dll pada jaman yang dekat dengan jaman para rasul digambarkan bahwa Yesus masuk ke air hanya sebatas lutut)

Yang agak Rumit disini adalah pembahasan dari kata Babtizo (kata Yunani untuk membabtis) yang menurut mereka berarti “menenggelamkan sesuatu dalam air”. Sebenarnya kata Babtizo memiliki beberapa arti yaitu “menenggelamkan” dan arti yang lain “mencelupkan”. ada hal yang menarik bahwa Lukas 11:38 “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan” kata “Mencuci” dalam Lukas 11:38 dalam bahasa Yunani babtizo tetapi dalam hal ini tentu bukan kata menenggelamkan, tetapi mungkin hanya mencelupkan (dalam tradisi yahudi ada tempayan yang digunakan untuk pembasuhan sebelum besantap) tetapi rasanya tidak etis dan tidak higienis jika seseorang mencelupkan tangannya (yang kotor) kedalam tempayan itu (sementara tempayan itu digunakan untuk pembasuhan tidak hanya untuk satu orang) tentunya orang akan mengambil gayung dan mengambil air dari tempayan itu lalu mengucurkannya ke tangan. Jadi jelaslah penggunaan kata “babtizo” sangat fleksibel tidak hanya menenggelamkan, oleh karena itu Tradisi Babtis Kristen sangat fleksibel (tidak hanya dengan diselam saja) berikut kesaksian dari Dokumen 12 Rasul (berasal dari abad II M) mengatakan bahwa jika tidak ada air yang cukup untuk membabtis maka pembabtisan dengan pengucuran airpun adalah sah. hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Didache (sekitar tahun 100 Masehi) yang berisi hal yang sama dan juga pernyataan St. Agustinus, sekedar pengetahuan Bahwa gereja Protestan yang termasuk aliran utama (Lutheran, Calvinis) menggunakan cara Babtis mirip seperti Katolik. Kita tahu kitab suci tidak memberikan petunjuk yang jelas dengan cara apakah Para Rasul membabtis (apakah dengan cara selam, dibasuh, atau dengan cara lain) tetapi kesaksian Yustinus Martir bahwa pembabtisan dilakukan dengan cara “masuk ke air” dan menurut banyak sejarah Gereja, pembabtisan dilakukan dengan cara menenggelamkan orang dan ini merupakan cara Babtis pada Gereja perdana yang akhirnya berevolusi menjadi Ritus yang lebih sederhana (untuk lebih jelasnya lihat: Sakramen Babtis dan sejarah Perubahan Ritusnya). Cara (Ritus) apapun yang digunakan untuk pembabtisan tetap tidak mengubah hakekat sakramen Babtis, bahkan menurut informasi di beberapa Gereja Katolik di Amerika terdapat “kolam” untuk membabtis.

Keselamatan tanpa babtis?
Dalam Dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium No 16 dikatakan bahwa “Mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal.”. sekilas ajaran itu bertentangan dengan 1 Tim 2:5 “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” ajaran Konsili Vatikan II menegaskan bahwa mereka “yang tanpa bersalah tidak mengenal injil Kristus” bisa selamat didasarkan karena Yesus menjadi tebusan bagi semua orang (lihat Mat 20:28; Mrk 10:45; 1Tim 2:6). Ajaran Konsili Vatikan II juga tidak bertentangan dengan Mrk 16:15 dan Yoh 3:18 karena menurut pendapat kami (yang bisa saja salah) Mrk 16:15 dan Yoh 3:18 tidak perlu ditafsirkan secara harafiah dalam arti yang ketat kedua  ayat itu menekankan tentang perlunya iman dan babtisan agar orang dapat selamat, namun bagi “yang tanpa bersalah tidak mengenal injil Kristus” masakah mereka juga harus dihukum?. Ajaran Konsili Vatikan II ini tidak mengakui bahwa semua agama itu sama, Gereja merasa perlu untuk mewartakan injil dan kita wajib memperkenalkan Kristus yang adalah jalan kebenaran dan Kehidupan dan Gereja sendiri memiliki kepenuhan sarana-sarana keselamatan (lihat Redemptoris Missio 55, Ensiklik Evangelii Nuntiandi, dokumen Konsili Vatikan II Digitatis Humanae 14, Ad Gentes 6 dan 7, dll) oleh karena itulah Gereja tidak pernah melupakan Perutusan agung yang diberikan Yesus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (mat 28:19-20) dengan tujuan memperkenalkan Kristus yang adalah jalan yang pasti dan singkat menuju Rumah Bapa.


SAKRAMEN EKARISTI ( Urutan kedua )

Dalam Sakramen Ekaristi, Roti & anggur yang dikonsekrasikan oleh imam berubah menjadi Tubuh & Darah Kristus lalu kemudian pada saat komuni kita menyambutnya dengan Hormat sekali, Pada hari kamis Putih sakramen di Tahtakan kemudian diarak. hal ini adalah suatu hal yang tidak akan diragukan kebenarannya oleh Gereja Katolik karena Roti & anggur yang dikonsekrasikan oleh imam berubah menjadi Tubuh & Darah Kristus paham ini mempunyai dasar alkitabiah yang sangat kuat sekali misalnya dalam:

1.Injil Matius bab 26:26-29 dimana pada saat merayakan perjamuan terakhir Yesus berkata “AMBILLAH, MAKANLAH, INILAH TUBUH-KU” & “MINUMLAH, KAMU SEMUA DARI CAWAN INI. SEBAB INILAH DARAHKU…” dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa Roti & anggur itu benar-benar Tubuh & Darah Yesus, karena dalam perikop tersebut Yesus tidak berkata “makanlah, umpamakan ini Tubuh-Ku” Tetapi Yesus berkata “INILAH TUBUH-KU”.

2.Injil Lukas 22:14:23, Lukas menekankan Perkataan Yesus “Perbuatlah ini menjadi Peringatan Akan Aku”.

3.Injil Yohanes 6:25-59, Yesus menyatakan “Daging-ku adalah Benar-Benar Makanan & Darah-ku adalah Benar-Benar Minuman”, Yesus Juga menyatakan bahwa Ekaristi adalah jaminan Kehidupan Kekal “Barangsiapa makan Daging-Ku & Minum Darah-Ku, ia mempunyai Hidup yang Kekal & Aku akan Membangkitkan dia pada akhir Zaman”, Yesus juga menyatakan Bahwa dengan ekaristi Kita bersatu dengan Yesus “Barangsiapa Makan daging-Ku & Minum Darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku & Aku di dalam dia” Yesus menyatakan hal ini bukan sebagai bahasa simbol / lambang tetapi yang sebenarnya sehingga orang yahudi berkata “perkataan ini sangat keras siapakah yang sanggup mendengarkannya” ini menunjukkan Yesus berkata bukan dengan bahasa lambang (nb: Orang Yahudi tidak bisa menerima Kanibalisme) 1. Saudara kita dari Gereja Protestan mengatakan Yesus sebenarnya bicara dengan bahasa lambang buktinya “Rohlah yang memberi hidup daging sama sekali tidak berguna perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah Roh yang Hidup” (Yohanes 6:63) bila diteliti lebih lanjut Yesus berbicara “daging-Ku” ketika ia berbicara tentang Ekaristi sedangkan pada Yohanes 6:63 Yesus hanya berkata “daging” dan kata-kata terakhir Yesus dalam ayat ini “perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah Roh yang Hidup” Yesus dalam hal ini tidak membicarakan Ekaristi lagi tetapi membicarakan tentang murid-murid yang mengundurkan diri itu.

4.Surat Paulus yg 1 kepada Jemaat di Korintus 11:17-33, Rasul Paulus dalam suratnya menekankan Kesakralan Ekaristi “Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan Roti atau minum cawan Tuhan ia berdosa terhadap Tubuh & Darah Tuhan” dan secara langsung juga menekankan bahwa Roti & Anggur yang telah diberkati (Dikonsekrasikan) benar-benar berubah menjadi TUBUH & DARAH TUHAN YESUS sendiri.

Seringkali ini menimbulkan pertanyaan dan dipertentangkan dengan kemahahadiran Tuhan. Dalam hal ini kita harus membedakan antara ‘kehadiran spiritual’ dan ‘kehadiran nyata’. Memang benar Tuhan hadir di mana-mana dalam setiap jiwa yang berada dalam keadaan rahmat, ini adalah ‘kehadiran spiritual’. Sedangkan dalam hosti yang telah dikonsekrasi, kehadiran Tuhan bersifat unik, dan khusus, hal ini dikenal sebagai ‘Kehadiran Nyata’ (Real Presence) dengan demikian kita perlu menunjukkan penghormatan yang khusus, karena Tuhan sendiri telah menunjukkan kehadiran-Nya secara khusus.

Dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik, hal ini bukan tidak menimbulkan perdebatan. Misalnya saja pada jaman reformasi, Luther melihat peristiwa ini sebagai co-substansi dimana Tubuh dan Darah Kristus ada bersama dengan roti dan anggur. Bahkan Calvin lebih jauh lagi melihat hosti sekedar simbol/perlambang kehadiran Kristus saja dan bukan kehadiran Kristus yang aktual sehingga seseorang yang menerimanya hanya diartikan menerima Kristus secara spiritual. Pandangan ini di tolak secara tegas oleh Gereja Katolik pada Konsili Trente.

Dalam pandangan Gereja Katolik, roti maupun anggur berubah sepenuhnya menjadi Yesus Kristus secara keseluruhan, baik Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keallahan-Nya. Dengan demikian seseorang yang menerima hosti berarti menerima Yesus Kristus secara keseluruhan. Perubahan ini adalah perubahan yang benar-benar terjadi secara aktual, dengan demikian baik di mata orang Katolik maupun bukan, roti dan anggur tersebut tetap merupakan Tubuh dan Darah Kristus.

Kehadiran Kristus tetap ada sepanjang bentuk roti dan anggur masih tetap ada. Ketika hosti yang telah dikonsekrasi ditelan ataupun larut dalam air maka itu bukan lagi Tubuh dan Darah Kristus. Jadi Tuhan Yesus dalam hosti tetap hadir pada diri penerima komuni selama hosti tersebut belum larut/ditelan sehingga ia harus menghormati kehadiran Kristus secara khusus selama masa itu.

jadi saudara-saudari sebelum kita menyambut Sakramen Ekaristi ada baiknya kita yang memiliki dosa berat mengakukan dosa terlebih dahulu karena kita menerima Yesus Tuhan Kita.

Sakramen Tobat ( Urutan ke Tiga )

Beberapa saudara/i kita dari Gereja Protestan mengatakan “mengapa dalam Gereja Katolik ada sakramen tobat?” dua alasan yang mereka sering ajukan adalah
Bukankah hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa?, dasar mereka adalah Mark 2:7 dan 1 Yoh 1:9
Terhadap Kritik ini kita dapat mengajukan keberatan antara lain:

    • Bila kita melihat konteks dari Mark 2:7 “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” jelas disana ungkapan dari musuh-musuh Yesus, yang menganggap Ia menghujat Allah
    • Bila kita melihat konteks 1 Yoh 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” jadi jelas bahwa disini mengandung arti bahwa Allah selalu bersedia untuk mengampuni dosa kita bila kita mengaku dosa dan tidak ada larangan untuk mengakukan dosa kepada Imam atau apapun yang akan kita bahas pada paragraf selanjutnya nanti.

Bukankah dosa itu urusan pribadi Allah dengan kita??…….
Terhadap hal ini kita dapat menjawab bahwa dosa menjadi urusan Gereja karena kita dengan Gereja seluruhnya adalah tubuh mistik Kristus bila kita berdosa yang merasakan akibat dosa itu tidak hanya kita tetapi juga Gereja. berikut beberapa contoh hal tersebut dalam kitab suci:

    • 1 kor 5:1-5 berbicara tentang Paulus yang menghukum orang yang menikah dengan isteri ayahnya dan memerintahkan supaya orang tersebut dikucilkan dari jemaat dengan maksud supaya pada akhirnya jiwanya diselamatkan
    • 2 Kor 2:5-11 berbicara tentang Paulus (dan jemaat Korintus) yang mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa seorang anggota jemaat.
    • Mat 18:15-20 berbunyi, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata … Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.”

Ayat-ayat ini mengandaikan bahwa jemaat memiliki kuasa untuk mengadili dan mengampuni dosa anggota jemaat. Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa dosa bukanlah soal pribadi antara si pendosa dan Allah saja! Itu urusan Gereja juga.
Gereja memiliki kuasa mengampuni dosa karena otoritas tersebut diberikan oleh Yesus sendiri :
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu
Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. (Yoh 20:19-23)

disini jelas bahwa Yesus menghembusi para Rasul, bandingkan dengan kejadian 2:7, Jelas disini Yesus memberikan suatu otoritas sehingga penulis injil Yohanes menekankan hal ini dengan menuliskan pada injilnya “Ia menghembusi mereka…” (Ayat 22) dan pada ayat sebelumnya nampak jelas bahwa ini adalah amanat perutusan Yesus kepada para Rasul (Ayat 21) yang diteguhkan oleh Roh Kudus (Ayat 22) dan bertujuan untuk mengampuni dosa (Ayat 23). jadi otoritas ini bukan buatan atau rekaan Gereja Katolik, Otoritas ini bukan omong kosong hal ini bisa dilihat pada ayat-ayat berikut:

    • 2 Kor 5:17-21 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”  disini jelas bahwa Paulus adalah “Pelayan Pendamaian” (Rekonsiliasi=Tobat) dari sini jelas bahwa Pelayan Pendamaian yang adalah tugas Kristus dapat dijalankan oleh Paulus (atas nama Kristus).
    • 2 Kor 2:10 “Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni (Yun: Charizomai), –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus,” lalu pada Kol 2:13 “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni (Yun: Charizomai) segala pelanggaran kita” jadi jelaslah Allah mengampuni dosa dan Paulus juga mengampuni dosa atas nama Yesus.
    • Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:13:16)

Disini jelas bahwa Sakramen Tobat  mendapat tempatnya “hendaklah kamu saling mengaku dosamu” (ayat 16), sekedar kita ketahui bahwa Yakobus 5:13-16 adalah dasar sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan orang sakit. Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan orang sakit menurut Yakobus membutuhkan Penatua Jemaat (Presbiter=Imam) lihatlah pada ayat 14. Dari banyak uraian diatas maka jelaslah sakramen tobat dan mengakukan dosa dihadapan Imam memiliki landasan Alkitab dan Tradisi Apostolik yang kuat sekali.

Berikut kesaksian beberapa Bapa-Bapa Gereja

    • “God never threatens the repentant, rather He pardons the penitent. You will say that it is God alone who can do this. True enough, but it is likewise true that He does it through his priests, who exercise His power.” – St. Pacianus of Barcelona (4th century A.D.)
    • “In this sacrament the acts of the penitent are as matter, while the part taken by the priest, who works as Christ’s minister, is the formal and completive element of the sacrament. Now in the other sacraments the matter pre-exists, being provided by nature, as water, or by art, as bread: but that such and such a matter be employed for a sacrament requires to be decided by the institution; while the sacrament derives its form and power entirely from the institution of Christ, from Whose Passion the power of the sacraments proceeds.” – St. Thomas Aquinas (“Summa Theologica” 13th century A.D.)

SAKRAMEN KRISMA (PENGUATAN) ( Urutan ke Empat )

Sakramen Krisma adalah salah satu dari tiga sakramen inisiasi Kristen yaitu Baptis, Krisma dan Ekaristi. Sakramen Krisma memiliki dasar Kitab Suci dari Kis 8:16-17 “Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.”  dan dari Kis 19:5-6 “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat”. dari kedua kutipan ini jelas bahwa Sakramen Krisma membutuhkan penumpangan tangan untuk mengundang Roh Kudus.

Didalam sakramen Krisma, kita menerima “Kepenuhan Roh Kudus” sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya dalam Gereja. bandingkan dengan para rasul yang menerima Roh Kudus saat Pantekosta, sebelum peristiwa Pantekosta mereka sudah menerima Roh Kudus (lihat Yoh 20:22) tetapi mereka baru ‘aktif’ sesudah Pantekosta. Demikian juga  halnya dengan kita karena sebenarnya Roh Kuduspun sudah kita terima saat Permandian, yaitu Roh yang menjadikan kita Anak-Anak Allah, dan yang membersihkan kita dari Dosa Asal (lebih Jelasnya lihat tentang Sakramen Babtis). Itulah disebutkan bahwa Sakramen Babtis adalah Sakramen Paskah dan Sakramen Krisma adalah Sakramen Pantekosta.

Dalam Sakramen Krisma juga ada Pengurapan dengan minyak Krisma yang berarti kita yang sudah menerima Krisma Dikuduskan, Dikhususkan, dan menerima Kuasa untuk melakukan tugas perutusan kita sebagai umat beriman (bdk 1 Samuel 10:1;1Samuel 16:13;  1 Raj 1:39). Dengan menerima Sakramen Krisma, kita menerima Roh Kudus yang merupakan meterai, Tanda bahwa kita ini milik Allah.

Berikut ini Kesaksian Bapa Gereja dan Para Kudus tentang Sakramen Krisma:

    • “Melalui Krisma orang dikuatkan sebagai pejuang Kristus” (St. Bonaventura)
    • Theophilus of Antioch: “Are you unwilling to be anointed with the oil of God? It is on this account that we are called Christians: because we are anointed with the oil of God” (To Autolycus 1:12 [A.D. 181]).
    • Tertullian: “After coming from the place of washing we are thoroughly anointed with a blessed unction, from the ancient discipline by which [those] in the priesthood . . . were accustomed to be anointed with a horn of oil, ever since Aaron was anointed by Moses. . . . So also with us, the unction runs on the body and profits us spiritually, in the same way that baptism itself is a corporal act by which we are plunged in water, while its effect is spiritual, in that we are freed from sins. After this, the hand is imposed for a blessing, invoking and inviting the Holy Spirit” (Baptism 7:1)
    • Tertullian: “No soul whatever is able to obtain salvation unless it has believed while it was in the flesh. Indeed, the flesh is the hinge of salvation . . . The flesh, then, is washed [baptism] so that the soul may be made clean. The flesh is anointed so that the soul may be dedicated to holiness. The flesh is signed so that the soul may be fortified. The flesh is shaded by the imposition of hands [confirmation] so that the soul may be illuminated by the Spirit. The flesh feeds on the body and blood of Christ [the Eucharist] so that the soul too may feed on God. They cannot, then, be separated in their reward, when they are united in their works” (The Resurrection of the Dead 8:2)
    • Hippolytus: “The bishop, imposing his hand on them, shall make an invocation, saying, ‘O Lord God, who made them worthy of the remission of sins through the Holy Spirit’s washing unto rebirth, send into them your grace so that they may serve you according to your will, for there is glory to you, to the Father and the Son with the Holy Spirit, in the holy Church, both now and through the ages of ages. Amen.’ Then, pouring the consecrated oil into his hand and imposing it on the head of the baptized, he shall say, ‘I anoint you with holy oil in the Lord, the Father Almighty, and Christ Jesus and the Holy Spirit.’ Signing them on the forehead, he shall kiss them and say, ‘The Lord be with you.’ He that has been signed shall say, ‘And with your spirit.’ Thus shall he do to each” (The Apostolic Tradition 21)
    • Cyprian of Carthage: “It is necessary for him that has been baptized also to be anointed, so that by his having received chrism, that is, the anointing, he can be the anointed of God and have in him the grace of Christ” (Letters 7:2 [A.D. 253]). ; “Some say in regard to those who were baptized in Samaria that when the apostles Peter and John came there only hands were imposed on them so that they might receive the Holy Spirit, and that they were not re-baptized. But we see, dearest brother, that this situation in no way pertains to the present case. Those in Samaria who had believed had believed in the true faith, and it was by the deacon Philip, whom those same apostles had sent there, that they had been baptized inside–in the Church. . . . Since, then, they had already received a legitimate and ecclesiastical baptism, it was not necessary to baptize them again. Rather, that only which was lacking was done by Peter and John. The prayer having been made over them and hands having been imposed upon them, the Holy Spirit was invoked and was poured out upon them. This is even now the practice among us, so that those who are baptized in the Church then are brought to the prelates of the Church; through our prayer and the imposition of hands, they receive the Holy Spirit and are perfected with the seal of the Lord” (ibid. 73[72]:9) ; “[A]re not hands, in the name of the same Christ, laid upon the baptized persons among them, for the reception of the Holy Spirit?” (ibid., 74[73]:5) ; “[O]ne is not born by the imposition of hands when he receives the Holy Ghost, but in baptism, that so, being already born, he may receive the Holy Spirit, even as it happened in the first man Adam. For first God formed him, and then breathed into his nostrils the breath of life. For the Spirit cannot be received, unless he who receives first have an existence. But . . . the birth of Christians is in baptism” (ibid., 74[73]:7)
    • Council of Carthage VII: “[I]n the Gospel our Lord Jesus Christ spoke with His divine voice, saying, ‘Except a man be born again of water and the Spirit, he cannot enter the kingdom of God’ [John 3:5]. This is the Spirit which from the beginning was borne over the waters; for neither can the Spirit operate without the water, nor the water without the Spirit. Certain people therefore interpret [this passage] for themselves wrongly, when they say that by imposition of the hand they receive the Holy Ghost, and are thus received, when it is manifest that they ought to be born again [initiated] in the Catholic Church by both sacraments” (VII Carthage [A.D. 256])
    • Treatise on Re-Baptism: “[I]t has been asked among the brethren what course ought specially to be adopted towards the persons of those who . . . baptized in heresy . . . and subsequently departing from their heresy, and fleeing as supplicants to the Church of God, should repent with their whole hearts, and only now perceiving the condemnation of their error, implore from the Church the help of salvation. . . . [A]ccording to the most ancient custom and ecclesiastical tradition, it would suffice, after that baptism which they have received outside the Church . . . that only hands should be laid upon them by the bishop for their reception of the Holy Spirit, and this imposition of hands would afford them the renewed and perfected seal of faith” (Treatise on Re-Baptism 1 [A.D. 256])
    • Pacian of Barcelona: “If, then, the power of both baptism and confirmation, greater by far than charisms, is passed on to the bishops, so too is the right of binding and loosing” (Three Letters to the Novatianist Sympronian 1:6 [A.D. 383])
    • dll

Dengan menerima Krisma berarti berarti kita dinilai sudah dewasa dalam Iman, dilantik menjadi saksi Iman dan terlibat penuh dalam Gereja.

SAKRAMEN PERNIKAHAN ( Urutan Ke Lima )

Gereja Katolik mengenal Sakramen Perkawinan sebagai salah satu dari ketujuah Sakramen. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur. Dengan adanya sakramen pernikahan secara lahiriah ada tanda yang menyatakan bahwa Allah hadir dalam kehidupan perkawinan dan Allah menjadi saksi cinta kasih sang suami dan istri (bdk Mal 2:14). Perkawinan dijadikan sakramen karena kitab suci sendiri mengisyaratkan seperti menjunjung tinggi perkawinan. Bahkan Paulus menegaskan supaya suami-istri saling mencintai seperti Kristus mencintai umatNya (jemaat atau Gereja-Nya – Lih Ef 5:21-33).

Kitab Kejadian memberikan gambaran bahwa Allah sungguh memberkati perkawinan  (bdk Kej 1:28). Campur tangan Allah itulah yang menjadi dasar yang kuat untuk menjadikan perkawinan sebagai sakramen.

Menurut Gereja Katolik perkawinan itu bersifat kekal atau tidak terceraikan dan ini  sesuai dengan KS (bdk Markus 10:1-12, Roma 7:2-3 dan Lukas 16:18). Pada kutipan KS yang lain ada seolah-olah semacam celah untuk melakukan perceraian seperti Matius 19:1-12, terutama pada ayat 9: “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Tetapi sebenarnya menurut para ahli kata di atas merupakan sisipan dari penulis injil. Mengapa?? Karena injil Matius ditujukan untuk pembaca Yahudi. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu mengijinkan perceraian sehingga akhirnya penulis injil menyisipkan kata “Kecuali karena zinah” agar tidak menimbulkan kesan bahwa Yesus mengubah hukum taurat, karena Yesus dalam injil Matius mengatakan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat 5:17-18) Jadi maksud Yesus tetap bahwa perkawinan itu tetap tak terceraikan. Hal itu dapat disimpulkan jika kita membaca ayat 9 pada Matius 19 dengan kesatuan dengan keseluruhan konteks perkawinan dalam KS.

Ada yang mengatakan bahwa  selain Mat 19:1-12, 1 Kor 7:10-11 juga mengisyaratkan akan bolehnya perceraian  (lihat pada ayat 11).

Tetapi jelas sekali dalam perikop ini bahwa kalau memang harus berpisah (= Paulus menyebutnya bercerai ) istri yang menceraikan suaminya tidak diperkenankan menikah lagi dan sebisa mungkin kembali rujuk dengan suaminya. Nah dalam hal ini sudah jelas bahwa Paulus mengatakan perceraian itu tidak diijinkan. Dalam Efesus 5:22-32 kita dapat menyimpulkan bahwa perceraian itu tidak dimungkinkan. Mengapa? Karena pada perikop itu dijelaskan bahwa hubungan Yesus dengan Jemaat adalah sebagai Kepala dan Tubuh yang sudah pasti tidak dapat diceraikan. Nah kalau Paulus juga menyamakan hubungan itu dengan hubungan suami dan istri berarti secara otomatis hubungan antara suami dan istri tidak dapat diceraikan, karena hubungan Yesus dengan jemaat tidak dapat diceraikan. Dalam  Perjanjian Lama ditegaskan bahwa Allah sendiri membenci perceraian (Mal 2:16).

Dalam istilah Gereja ada istilah Annulments yang dalam hukum gereja berarti sejak awal mula tidak ditemukan perkawinan yang sah (perkawinan yang menjadi batal karena tidak memenuhi hukum Gereja atau sebab musabab yang sesuai hukum Gereja). dalam hal ini mereka yang mengalami mungkin dapat menikah kembali di Gereja. Dalam Gereja Katolik jika pasangan yang menikah salah satunya ada yang meninggal maka pasangan yang satunya dapat pula kembali menikah di gereja.

Berikut kesaksian Bapa-Bapa Gereja tentang Sakramen Pernikahan:

  • Hermas “What then shall the husband do, if the wife continue in this disposition [adultery]? Let him divorce her, and let the husband remain single. But if he divorce his wife and marry another, he too commits adultery” (The Shepherd 4:1:6 [A.D. 80]).
  • Justin Martyr “In regard to chastity, [Jesus] has-this to say: ‘If anyone look with lust at a woman, he has already before God committed adultery in his heart.’ And, ‘Whoever marries a woman who has been divorced from another husband, commits adultery.’ According to our Teacher, just as they are sinners who contract a second marriage, even though it be in accord with human law, so also are they sinners who look with lustful desire at a woman. He repudiates not only one who actually commits adultery, but even one who wishes to do so; for not only our actions are manifest to God, but even our thoughts” (First Apology 15 [A.D. 151]).
  • Clement of Alexandria “That Scripture counsels marriage, however, and never allows any release from the union, is expressly contained in the law: ‘You shall not divorce a wife, except for reason of immorality.’ And it regards as adultery the marriage of a spouse, while the one from whom a separation was made is still alive. ‘Whoever takes a divorced woman as wife commits adultery,’ it says; for ‘if anyone divorce his wife, he debauches her'; that is, he compels her to commit adultery. And not only does he that divorces her become the cause of this, but also he that takes the woman and gives her the opportunity of sinning; for if he did not take her, she would return to her husband” (Miscellanies 2:23:145:3 [A.D. 208]).
  • Origen “Just as a woman is an adulteress, even though she seem to be married to a man, while a former husband yet lives, so also the man who seems to marry her who has been divorced does not marry her, but, according to the declaration of our Savior, he commits adultery with her” (Commentaries on Matthew 14:24 [A.D. 248]).
  • Basil the Great “A man who marries after another man’s wife has been taken away from him will be charged with adultery in the case of the first woman; but in the case of the second he will be guiltless” (Second Canonical Letter to Amphilochius 199:37 [A.D. 375]).
  • Ambrose of Milan “No one is permitted to know a woman other than his wife. The marital right is given you for this reason: lest you fall into the snare and sin with a strange woman. ‘If you are bound to a wife do not seek a divorce'; for you are not permitted, while your wife lives, to marry another.” (Abraham 1:7:59 [A.D. 387]). “You dismiss your wife, therefore, as if by right and without being charged with wrongdoing; and you suppose it is proper for you to do so because no human law forbids it; but divine law forbids it. Anyone who obeys men ought to stand in awe of God. Hear the law of the Lord, which even they who propose our laws must obey: ‘What God has joined together let no man put asunder”‘ (Commentary on Luke 8:5 [A.D. 389]).
  • Jerome “Do not tell me about the violence of the ravisher, about the persuasiveness of a mother, about the authority of a father, about the influence of relatives, about the intrigues and insolence of servants, or about household [financial] losses. So long as a husband lives, be he adulterer, be he sodomite, be he addicted to every kind of vice, if she left him on account of his crimes he is still her husband still and she may not take another” (Letters 55:3 [A.D. 396]). “Wherever there is fornication and a suspicion of fornication a wife is freely dismissed. Because it is always possible that someone may calumniate the innocent and, for the sake of a second joining in marriage, act in criminal fashion against the first, it is commanded that when the first wife is dismissed a second may not be taken while the first lives” (Commentaries on Matthew 3:19:9 [A.D. 398]).
  • Pope Innocent I “[T]he practice is observed by all of regarding as an adulteress a woman who marries a second time while her husband yet lives, and permission to do penance is not granted her until one of them is dead” (Letters 2:13:15 [A.D. 408]).
  • Chrysostom John ” ‘What therefore God hath joined together, let not man put asunder.’ See a teacher’s wisdom. I mean, that being asked, Is it lawful? He did not at once say, It is not lawful, lest they should be disturbed and put in disorder, but before the decision by His argument He rendered this manifest, showing that it is itself too the commandment of His Father, and that not in opposition to Moses did He enjoin these things, but in full agreement with him. But mark Him arguing strongly not from the creation only, but also from His command. For He said not, that He made one man and one woman only, but that He also gave this command that the one man should be joined to the one woman. But if it had been His will that he should put this one away, and bring in another, when He had made one man, He would have formed many Women. But now both by the manner of the creation, and by the manner of lawgiving, He showed that one man must dwell with one woman continually, and never break off from her.” Chrysostom John,On Matthew,62:1(A.D

SAKRAMEN PERNIKAHAN ( Urutan ke Enam )

Gereja Katolik mengenal Sakramen Perkawinan sebagai salah satu dari ketujuah Sakramen. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur. Dengan adanya sakramen pernikahan secara lahiriah ada tanda yang menyatakan bahwa Allah hadir dalam kehidupan perkawinan dan Allah menjadi saksi cinta kasih sang suami dan istri (bdk Mal 2:14). Perkawinan dijadikan sakramen karena kitab suci sendiri mengisyaratkan seperti menjunjung tinggi perkawinan. Bahkan Paulus menegaskan supaya suami-istri saling mencintai seperti Kristus mencintai umatNya (jemaat atau Gereja-Nya – Lih Ef 5:21-33).

Kitab Kejadian memberikan gambaran bahwa Allah sungguh memberkati perkawinan  (bdk Kej 1:28). Campur tangan Allah itulah yang menjadi dasar yang kuat untuk menjadikan perkawinan sebagai sakramen.

Menurut Gereja Katolik perkawinan itu bersifat kekal atau tidak terceraikan dan ini  sesuai dengan KS (bdk Markus 10:1-12, Roma 7:2-3 dan Lukas 16:18). Pada kutipan KS yang lain ada seolah-olah semacam celah untuk melakukan perceraian seperti Matius 19:1-12, terutama pada ayat 9: “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Tetapi sebenarnya menurut para ahli kata di atas merupakan sisipan dari penulis injil. Mengapa?? Karena injil Matius ditujukan untuk pembaca Yahudi. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu mengijinkan perceraian sehingga akhirnya penulis injil menyisipkan kata “Kecuali karena zinah” agar tidak menimbulkan kesan bahwa Yesus mengubah hukum taurat, karena Yesus dalam injil Matius mengatakan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat 5:17-18) Jadi maksud Yesus tetap bahwa perkawinan itu tetap tak terceraikan. Hal itu dapat disimpulkan jika kita membaca ayat 9 pada Matius 19 dengan kesatuan dengan keseluruhan konteks perkawinan dalam KS.

Ada yang mengatakan bahwa  selain Mat 19:1-12, 1 Kor 7:10-11 juga mengisyaratkan akan bolehnya perceraian  (lihat pada ayat 11).

Tetapi jelas sekali dalam perikop ini bahwa kalau memang harus berpisah (= Paulus menyebutnya bercerai ) istri yang menceraikan suaminya tidak diperkenankan menikah lagi dan sebisa mungkin kembali rujuk dengan suaminya. Nah dalam hal ini sudah jelas bahwa Paulus mengatakan perceraian itu tidak diijinkan. Dalam Efesus 5:22-32 kita dapat menyimpulkan bahwa perceraian itu tidak dimungkinkan. Mengapa? Karena pada perikop itu dijelaskan bahwa hubungan Yesus dengan Jemaat adalah sebagai Kepala dan Tubuh yang sudah pasti tidak dapat diceraikan. Nah kalau Paulus juga menyamakan hubungan itu dengan hubungan suami dan istri berarti secara otomatis hubungan antara suami dan istri tidak dapat diceraikan, karena hubungan Yesus dengan jemaat tidak dapat diceraikan. Dalam  Perjanjian Lama ditegaskan bahwa Allah sendiri membenci perceraian (Mal 2:16).

Dalam istilah Gereja ada istilah Annulments yang dalam hukum gereja berarti sejak awal mula tidak ditemukan perkawinan yang sah (perkawinan yang menjadi batal karena tidak memenuhi hukum Gereja atau sebab musabab yang sesuai hukum Gereja). dalam hal ini mereka yang mengalami mungkin dapat menikah kembali di Gereja. Dalam Gereja Katolik jika pasangan yang menikah salah satunya ada yang meninggal maka pasangan yang satunya dapat pula kembali menikah di gereja.

Berikut kesaksian Bapa-Bapa Gereja tentang Sakramen Pernikahan:

  • Hermas “What then shall the husband do, if the wife continue in this disposition [adultery]? Let him divorce her, and let the husband remain single. But if he divorce his wife and marry another, he too commits adultery” (The Shepherd 4:1:6 [A.D. 80]).
  • Justin Martyr “In regard to chastity, [Jesus] has-this to say: ‘If anyone look with lust at a woman, he has already before God committed adultery in his heart.’ And, ‘Whoever marries a woman who has been divorced from another husband, commits adultery.’ According to our Teacher, just as they are sinners who contract a second marriage, even though it be in accord with human law, so also are they sinners who look with lustful desire at a woman. He repudiates not only one who actually commits adultery, but even one who wishes to do so; for not only our actions are manifest to God, but even our thoughts” (First Apology 15 [A.D. 151]).
  • Clement of Alexandria “That Scripture counsels marriage, however, and never allows any release from the union, is expressly contained in the law: ‘You shall not divorce a wife, except for reason of immorality.’ And it regards as adultery the marriage of a spouse, while the one from whom a separation was made is still alive. ‘Whoever takes a divorced woman as wife commits adultery,’ it says; for ‘if anyone divorce his wife, he debauches her'; that is, he compels her to commit adultery. And not only does he that divorces her become the cause of this, but also he that takes the woman and gives her the opportunity of sinning; for if he did not take her, she would return to her husband” (Miscellanies 2:23:145:3 [A.D. 208]).
  • Origen “Just as a woman is an adulteress, even though she seem to be married to a man, while a former husband yet lives, so also the man who seems to marry her who has been divorced does not marry her, but, according to the declaration of our Savior, he commits adultery with her” (Commentaries on Matthew 14:24 [A.D. 248]).
  • Basil the Great “A man who marries after another man’s wife has been taken away from him will be charged with adultery in the case of the first woman; but in the case of the second he will be guiltless” (Second Canonical Letter to Amphilochius 199:37 [A.D. 375]).
  • Ambrose of Milan “No one is permitted to know a woman other than his wife. The marital right is given you for this reason: lest you fall into the snare and sin with a strange woman. ‘If you are bound to a wife do not seek a divorce'; for you are not permitted, while your wife lives, to marry another.” (Abraham 1:7:59 [A.D. 387]). “You dismiss your wife, therefore, as if by right and without being charged with wrongdoing; and you suppose it is proper for you to do so because no human law forbids it; but divine law forbids it. Anyone who obeys men ought to stand in awe of God. Hear the law of the Lord, which even they who propose our laws must obey: ‘What God has joined together let no man put asunder”‘ (Commentary on Luke 8:5 [A.D. 389]).
  • Jerome “Do not tell me about the violence of the ravisher, about the persuasiveness of a mother, about the authority of a father, about the influence of relatives, about the intrigues and insolence of servants, or about household [financial] losses. So long as a husband lives, be he adulterer, be he sodomite, be he addicted to every kind of vice, if she left him on account of his crimes he is still her husband still and she may not take another” (Letters 55:3 [A.D. 396]). “Wherever there is fornication and a suspicion of fornication a wife is freely dismissed. Because it is always possible that someone may calumniate the innocent and, for the sake of a second joining in marriage, act in criminal fashion against the first, it is commanded that when the first wife is dismissed a second may not be taken while the first lives” (Commentaries on Matthew 3:19:9 [A.D. 398]).
  • Pope Innocent I “[T]he practice is observed by all of regarding as an adulteress a woman who marries a second time while her husband yet lives, and permission to do penance is not granted her until one of them is dead” (Letters 2:13:15 [A.D. 408]).
  • Chrysostom John ” ‘What therefore God hath joined together, let not man put asunder.’ See a teacher’s wisdom. I mean, that being asked, Is it lawful? He did not at once say, It is not lawful, lest they should be disturbed and put in disorder, but before the decision by His argument He rendered this manifest, showing that it is itself too the commandment of His Father, and that not in opposition to Moses did He enjoin these things, but in full agreement with him. But mark Him arguing strongly not from the creation only, but also from His command. For He said not, that He made one man and one woman only, but that He also gave this command that the one man should be joined to the one woman. But if it had been His will that he should put this one away, and bring in another, when He had made one man, He would have formed many Women. But now both by the manner of the creation, and by the manner of lawgiving, He showed that one man must dwell with one woman continually, and never break off from her.” Chrysostom John,On Matthew,62:1(A.D

SAKRAMEN IMAMAT ( Urutan Ke Tujuh / terakhir )

SUKSESI APOSTOLIK DAN SAKRAMEN IMAMAT
Salah satu sifat gereja adalah apostolik dimana gereja itu harus menunjukkan (menampakkan) ciri-ciri rasuli (lih Ef 2:20) karena dibangun diatas para Rasul dengan Kristus sebagai batu Penjurunya, tentu pula dengan Petrus sebagai kepada dewan para rasul seperti yang Yesus sendiri kehendaki (bdk Mat 16:18-22;Yoh 21:15; Kis 2:14; dll). Konsekuensi dari gereja yang mempertahankan sifat gereja yang Apostolik adalah mempunyai suksesi apostolik, dengan adanya suksesi Apostolik maka kedudukan para rasul dan Petrus sebagai kepala dewan para rasul dapat tergantikan, dengan demikian kelangsungan Gereja dapat terjamin sesuai kehendak Yesus sendiri kepada Gerejanya (bdk Mat 28:20). Suksesi apostolik dalam Gereja perdana bisa kita lihat pada misalnya penggantian Yudas Iskariot oleh Matias (Kis 1), Pengangkatan beberapa Pelayan dalam jemaat, dll. caranya itu dilakukan dengan penumpangan tangan (bdk Kis 6:6;Itim 5:22, dll) dan fungsinya adalah menggantikan kedudukan para rasul (bdk Kis 14:23). Suksesi Apostolik dipertahankan oleh Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks, kita percaya bahwa meskipun alkitab tidak secara tegas menyatakan tentang suksesi Apostolik, tetapi alkitab memberikan gambaran tentang hal itu dan juga Tradisi Suci juga menegaskan hal yang sama [penjelasan tentang Tradisi suci lihat artikel Apakah hanya Alkitab dasar iman Kita?]. Gereja yang mempertahankan suksesi Apostolik, memiliki ciri-ciri antara lain memiliki kesatuan dalam hal iman, ajaran, tata ibadat, hirarki, dll dimanapun komunitas itu berada, dimana Gereja sekarang sama seperti Gereja para rasul, dimana para jemaat bertekun dalam pengajaran para rasul (lih Kis 2:42). Dimana Gereja yang sekarang sama seperti Gereja pada masa Bapa-Bapa Gereja dan akan tetap sama sampai kepada akhir jaman. Pembahasan mengenai suksesi Apostolik berkaitan erat dengan sakramen Imamat, karena dengan adanya Sakramen ini maka dimungkinkan adanya Suksesi Apostolik dan dengan menerima sakramen Imamat dari mereka yang memiliki Suksesi apostolik yang sah maka penerima akan turut ambil bagian dalam Imamat Kristus (secara khusus) sebagai Imam, karena hal inilah Gereja percaya bahwa Tahbisan Suci itu benar-benar merupakan suatu Sakramen.

Sakramen Tahbisan diberikan oleh Uskup kepada mereka yang telah mendapat tahbisan diakon. Sakramen ini mendapat tempat dalam kitab suci sebagai contoh kita dapat lihat di Kis 14:23 “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka” juga pada Kis 20:17,28. kemudian bila kita perhatikan dalam 1Kor 12:28 “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar.” Jadi disini jelas bahwa dalam Gereja ada pembedaan fungsi dan peran yang masing-masing memiliki jenjang tersendiri. Pentahbisan para pelayan gereja ini juga ditunjukkan dengan penumpangan tangan untuk jelasnya lihat Kis 6:6, Kis 13:3. disini jelaslah bahwa sakramen imamat memiliki dasar kitab suci dan sakramen imamat akan lebih jelas lagi bila Tradisi Suci yang menjelaskannya. berikut komentar Teolog Besar Gereja Katolik “Kristus adalah sumber setiap imamat; karena imam hukum [lama] citranya. Tetapi imam Perjanjian Baru bertindak atas nama Kristus” (Thomas Aquino, s.th 3,22,4) dan Berikut pula beberapa kesaksian Bapa-Bapa Gereja tentang Sakramen Imamat dan Suksesi Apostolik:

  1. “Bapa, Engkau yang mengenal hati, berilah kepada para pelayan-Mu, yang telah Engkau panggil untuk martabat Uskup, supaya ia menggembalakan kawanan-Mu yang kudus dan melaksanakan di hadirat-Mu imamat yang agung ini tanpa cacat, dengan melayani Engkau siang dan malam. Semoga ia tanpa henti-hentinya membuat wajah-Mu menyinarkan belas kasihan dan semoga ia membawakan persembahan Gereja-Mu yang Kudus. Semoga ia berkat roh imamat yang agung ini mempunyai kekuasaan untuk mengampuni dosa sesuai perintah-Mu. Semoga ia membagi-bagikan tugas sesuai dengan aturan-Mu dan membuka ikatan berkat kekuasaan yang telah Engkau berikan kepada para rasul-Mu. Semoga ia berkenan kepada-Mu oleh kelemahlembutan dan oleh hatinya yang murni, waktu ia mempersembahkan kepada-Mu keharuman yang menyegarkan dengan perantaraan Yesus Kristus anak-Mu….” (Hipolitus, trad. ap. 3)
  2. “When I had come to Rome, I [visited] Anicetus, whose deacon was Eleutherus. And after Anicetus [died], Soter succeeded, and after him Eleutherus. In each succession and in each city there is a continuance of that which is proclaimed by the Law, the Prophets, and the Lord” (Hegesippus, Memoirs 4:22:1 [ A.D. 180]).
  3. “It is possible, then, for everyone in every church, who may wish to know the truth, to contemplate the Tradition of the Apostles which has been made known to us throughout the whole world. And we are in a position to enumerate those who were instituted bishops by the apostles and their successors down to our own times, men who neither knew nor taught anything like what these heretics rave about” (Irenaeus dan Lyons, Against Heresies 3:3:1 [A.D. 189]); “But since it would be too long to enumerate in such as volume as this the successions of all the churches, we shall confound all those who, in whatever manner, whether through self-satisfaction or vainglory, or through blindness and wicked opinion, assemble other than where it is proper, by pointing out here the successions of the bishops of the greatest and most ancient church known to all, founded and organized at Rome by the two most glorious Apostles, Peter and Paul–that church which has the Tradition and the with which comes down to us after having been announced to men by the apostles. For with this Church, because if its superior origin, all churches must agree, that is, all the faithful in the whole world. And it is in her that the faithful everywhere have maintained the Apostolic Tradition” (ibid., 3:3:2).
  4. “[The Apostles] founded churches in every city, from which all the other churches, one after another, derived the tradition of the faith, and the seeds of doctrine, and are every day deriving them, that they may become churches. Indeed, it is on this account only that they will be able to deem themselves apostolic, as being the offspring of apostolic churches. Every sort of thing must necessarily revert to its original for its classification. Therefore the churches, although they are so many and so great, comprise but the one primitive church, [founded] by the apostles, from which they all [spring]. In this way all are primitive, and all are apostolic, while they are all proved to be one in unity by their ” (Tertulianus, Demurrer Against the Heretics 20 [A.D. 200]).;”[W]hat it was which Christ revealed to them [the apostles] can, as I must here likewise prescribe, properly be proved in no other way than by those very churches which the apostles founded in person, by declaring the gospel to them directly themselves . . . If then these things are so, it is in the same degree manifest that all doctrine which agrees with the apostolic churches–those molds and original sources of the faith must be reckoned for truth, as undoubtedly containing that which the churches received from the apostles, the apostles from Christ, [and] Christ from God. Whereas all doctrine must be prejudged as false which savors of contrariety to the truth of the churches and apostles of Christ and God. It remains, then, that we demonstrate whether this doctrine of ours, of which we have now given the rule, has its origin in the Tradition of the Apostles, and whether all other doctrines do not ipso facto proceed from falsehood” (ibid., 21).;”But if there be any [heresies] which are bold enough to plant [their origin] in the midst of the apostolic age, that they may thereby seem to have been handed down by the apostles, because they existed in the time of the apostles, we can say: Let them produce the original records of their churches; let them unfold the roll of their bishops, running down in due succession from the beginning in such a manner that [their first] bishop shall be able to show for his ordainer and predecessor some one of the apostles or of apostolic men–a man, moreover, who continued steadfast with the apostles. For this is the manner in which the apostolic churches transmit their registers: as the church of Smyrna, which records that Polycarp was placed therein by John; as also the church of Rome, which makes Clement to have been ordained in like manner by Peter” (ibid., 32).
  5. ” I must not omit an account of the conduct also of the heretics–how frivolous it is, how worldly, how merely human, without seriousness, without authority, without discipline, as suits their creed. To begin with, it is doubtful who is a catechumen, and who a believer; they have all access alike, they hear alike, they pray alike–even heathens, if any such happen to come among them. ‘That which is holy they will cast to the dogs, and their pearls,’ although (to be sure) they are not real ones, ‘they will fling to the swine.’ Simplicity they will have to consist in the overthrow of discipline, attention to which on our part they call brothelry. Peace also they huddle up anyhow with all comers; for it matters not to them, however different be their treatment of subjects, provided only they can conspire together to storm the citadel of the one only Truth. All are puffed up, all offer you knowledge. Their catechumens are perfect before they are full-taught. The very women of these heretics, how wanton they are! For they are bold enough to teach, to dispute, to enact exorcisms, to undertake cures–it may be even to baptize. Their ordinations, are carelessly. administered, capricious, changeable. At one time they put novices in office; at another time, men who are bound to some secular employment; at another, persons who have apostatized from us, to bind them by vainglory, since they cannot by the truth. Nowhere is promotion easier than in the camp of rebels, where the mere fact of being there is a foremost service. And so it comes to pass that to-day one man is their bishop, to-morrow another; to-day he is a deacon who to-morrow is a reader; to-day he is a presbyter who tomorrow is a layman. For even on laymen do they impose the functions of priesthood.”
    Tertullian,On Prescription Against Heretics,41(c.A.D. 200),in ANF,III:263
  6. “Pejabat yang angkuh harus digolongkan dengan setan. Anugerah Kristus tidak dinodai karena itu;yang mengalir melalui dia, pertahankan kemurniannya;yang disalurkan melalui dia, tinggal bersih dan sampai ke tanah yang subur. … kekuatan rohani Sakramen adalah serupa dengan terang; siapa yang harus disinari, menerimanya dengan kejernihannya, dan apabila ia harus melewati yang kotor, ia sendiri tidak menjadi kotor” (Agustinus ev. jo 5,15)
  7. “Since therefore I have, in the persons before mentioned, beheld the whole multitude of you in faith and love, I exhort you to study to do all things with a divine harmony, while your bishop presides in the place of God, and your presbyters in the place of the assembly of the apostles, along with your deacons, who are most dear to me, and are entrusted with the ministry of Jesus Christ, who was with the Father before the beginning of time, and in the end was revealed. Do ye all then, imitating the same divine conduct, pay respect to one another, and let no one look upon his neighbour after the flesh, but do ye continually love each other in Jesus Christ. Let nothing exist among you that may divide you ; but be ye united with your bishop, and those that preside over you, as a type and evidence of your immortality.”
    Ignatius of Antioch,Epistle to the Magnesians,6(A.D. 110),in ANF,I:61
  8. Since, according to my opinion, the grades here in the Church, of bishops, presbyters, deacons, are imitations of the angelic glory, and of that economy which, the Scriptures say, awaits those who, following the footsteps of the apostles, have lived in perfection of righteousness according to the Gospel. For these taken up in the clouds, the apostle writes, will first minister [as deacons], then be classed in the presbyterate, by promotion in glory (for glory differs from glory) till they grow into ‘a perfect man.’ ” Clement of Alexandria,Stromata,13(A.D. 202),in ANF,II:505
  9. “Semua orang harus menghormati diaken seperti Yesus Kristus, demikian pula Uskup sebagai citra Bapa, tetapi Presbiter sebagai dewan Allah dan sebagai persekutuan para rasul. Tanpa mereka tidak ada Gereja” (Ignasius dari Antiokia, Trall. 3,1)
  10. “Tuhan telah mengatakan dengan jelas bahwa usaha untuk kawanan-Nya adalah suatu bukti cinta terhadap-Nya” (Yohanes Krisostomos, sac 2,2)
  11. “Through countryside and city [the apostles] preached, and they appointed their earliest converts, testing them by the Spirit, to be the bishops and deacons of future believers. Nor was this a novelty, for bishops and deacons had been written about a long time earlier. . . . Our apostles knew through our Lord Jesus Christ that there would be strife for the office of bishop. For this reason, therefore, having received perfect foreknowledge, they appointed those who have already been mentioned and afterwards added the further provision that, if they should die, other approved men should succeed to their ministry.” (Paus Klemens I, Letter to the Corinthians 42:4-5, 44:1-3 [A.D. 80]).
  12. “Beware lest ever like Simon thou come to the dispensers of Baptism in hypocrisy, thy heart the while not seeking the truth. It is ours to protest, but it is thine to secure thyself. If thou standest in faith, blessed art thou; if thou hast fallen in unbelief, from this day forward cast away thine unbelief, and receive full assurance. For, at the season of baptism, when thou art come before the Bishops, or Presbyters, or Deacons,–(forits grace is everywhere, in villages and in cities, on them of low as on them of high degree, on bondsmen and on freemen, for this grace is not of men, but the gift is from God through men,)–approach the Minister of Baptism, but approaching, think not of the face of him thou seest, but remember this Holy Ghost of whom we are now speaking. For He is present in readiness to seal thy soul, and He shall give thee that Seal at which evil spirits tremble, a heavenly and sacred seal, as also it is written, In whom also ye believed, and were sealed with the Holy Spirit of promise.” Cyril of Jerusalem,Catechetical Lectures,XVII:35(A.D. 350),in NPNF2,VII:132
  13. “Despise not, therefore, the Divine laver, nor think lightly of it, as a common thing, on account of the use of water. For the power that operates is mighty, and wonderful are the things that are wrought thereby. For this holy altar, too, by which I stand, is stone, ordinary in its nature, nowise different from the other slabs of stone that build our houses and adorn our pavements; but seeing that it was consecrated to the service of God, and received the benediction, it is a holy table, an altar undefiled, no longer touched by the hands of all, but of the priests alone, and that with reverence. The bread again is at first common bread, but when the sacramental action consecrates it, it is called, and becomes, the Body of Christ. So with the sacramental oil; so with the wine: though before the benediction they are of little value, each of them, after the sanctification bestowed by the Spirit, has its several operation. The same power of the word, again, also makes the priest venerable and honourable, separated, by the new blessing bestowed upon him, from his community with the mass of men. While but yesterday he was one of the mass, one of the people, he is suddenly rendered a guide, a president, a teacher of righteousness, an instructor in hidden mysteries; and this he does without being at all changed in body or in form; but, while continuing to be in all appearance the man he was before, being, by some unseen power and grace, transformed in respect of his unseen soul to the higher condition. And so there are many things, which if you consider you will see that their appearance is contemptible, but the things they accomplish are mighty: and this is especially the case when you collect from the ancient history instances cognate and similar to the subject of our inquiry.” Gregory of Nyssa,On the Baptism of Christ(ante A.D. 394),in NPNF2,V:519
  14. “As often as GOD’s mercy deigns to bring round the day of His gifts to us, there is, dearly-beloved, just and reasonable cause for rejoicing, if only our appointment to the office be referred to the praise of Him who gave it. For though this recognition of GOD may well be found in all His priests, yet I take it to be peculiarly binding on me, who, regarding my own utter insignificance and the greatness of the office undertaken, ought myself also to utter that exclamation of the Prophet,’LORD, I heard Thy speech and was afraid: I considered Thy works and was dismayed.’ For what is so unwonted and so dismaying as labour to the frail, exaltation to the humble, dignity to the undeserving? And yet we do not despair nor lose heart, because we put our trust not in ourselves but in Him who works in us. And hence also we have sung with harmonious voice the psalm of David, dearly beloved, not in our own praise, but to the glory of Christ the LORD. For it is He of whom it is prophetically written, ‘Thou art a priest for ever after the order of Melchizedeck,’ that is, not after the order of Aaron, whose priesthood descending along his own line of offspring was a temporal ministry, and ceased with the law of the Old Testament, but after the order of Melchizedeck, in whom was prefigured the eternal High Priest. And no reference is made to his parentage because in him it is understood that He was portrayed, whose generation cannot be declared. And finally, now that the mystery of this Divine priesthood has descended to human agency, it runs not by the line of birth, nor is that which flesh and blood created, chosen, but without regard to the privilege of paternity and succession by inheritance, those men are received by the Church as its rulers whom the Holy Ghost prepares: so that in the people of GOD’s adoption, the whole body of which is priestly and royal, it is not the prerogative of earthly origin which obtains the unction, but the condescension of Divine grace which creates the bishop.” Pope Leo the Great[regn. A.D. 440-461],Sermons,3:1(ante A.D. 461),in NPNF2,XII:116
  15. “When a priest is ordained, while the bishop is blesing [him] and holding his hands over his head, let all the priests also, who are present, hold their hands close to the hands of the bishop above his head.” Council of Chalcedon,Canon 3(A.D. 451),in DEN,62-63

Sakramen Imamat dipertahankan oleh Gereja yang benar-benar memiliki sifat apostolik dan dengan demikian benar-benar memiliki Suksesi Apostolik yang sah. Sakramen Imamat juga menimbulkan ‘cap’ yang tidak dapat dihapuskan sama seperti Yesus yang adalah imam untuk selamanya, demikian pula mereka yang ambil bagian dalam imamat khusus Yesus (dengan ditahbiskan) juga memiliki karunia Imamat itu selamanya (lih KGK 1581 & 1582)

SELIBAT
Selibat merupakan suatu aturan tersendiri dalam Ritus Latin. sedangkan dalam Ritus Timur para Imamnya diperbolehkan untuk menikah (sebelum ditahbiskan) tetapi sesudah ditahbiskan mereka tidak boleh menikah, sedangkan para Uskup dipilih dari mereka yang selibat (lihat KGK 1580).

Selibat dalam Ritus Latin sebenarnya memiliki landasan Kitab Suci yang kuat antara lain Matius 19:21 dimana disana jelas dinyatakan bahwa ada orang yang memang selibat karena kerajaan Allah. dan dalam 1 Kor 7:7-38 Paulus membicarakan masalah selibat meskipun ia berbicara pula masalah perkawinan, Paulus menganjurkan agar orang selibat jika memang itu karunianya. dan dalam ayat 32-33 dan 35 Paulus mengatakan bahwa dengan selibat maka orang dapat melayani Tuhan tanpa gangguan. Pada 1 Kor 7:20 dikatakan “baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.”, kita tahu bahwa menjadi Imam adalah panggilan Allah sendiri dari sejak awal mula hidup kita didunia ini (lih Yer 1:5)  meskipun kita sendiri dikarunai kehendak bebas. Nah  St. Paulus mengatakan bahwa “baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” nah berarti seseorang terpanggil mejadi Imam lebih baik selibat karena menuruti ajuran Paulus ini dan mengingat beberapa hal yang diatas tersebut.


)

Paus Yohanes Paulus II mempersembahkan Misa

SAKRAMEN EKARISTI
( Urutan kedua )

 

14 responses to “Urutan sakramen Katolik

  1. banta

    Juni 5, 2011 at 12:18 pm

    saya tidak berpendat tapi saya senang terimakasih

     
  2. banta

    Juni 5, 2011 at 12:34 pm

    SAMA

     
  3. banta

    Juni 5, 2011 at 12:36 pm

    SAYA GILA

     
  4. banta

    Juni 5, 2011 at 12:38 pm

    BANTA
    CS
    MAYES

     
  5. LOUIS

    Juni 5, 2011 at 12:39 pm

    BANTA
    CS
    MAYES

     
  6. banta

    Juni 5, 2011 at 12:40 pm

    AKU SUKA MAYES

     
  7. ovani vidyanty

    Februari 4, 2012 at 5:39 am

    Tuliskan urutan sakramen baptis…………

     
  8. krisan

    Maret 19, 2012 at 11:08 am

    trimakasih infonya…

     
  9. BW007

    Agustus 23, 2012 at 12:48 am

    sakraMEN 6 N 7 KOK SAMA YAAAA?

     
  10. BW007

    Agustus 23, 2012 at 12:50 am

    MAAF MAKSUDNYA 5 N 6 KOK SAMA? TQ

     
    • joshuaemanuel

      November 28, 2012 at 1:54 am

      trims uda mampir, nanti saya cek ulang postingannya, GBU

       
  11. lin

    Januari 24, 2013 at 6:28 am

    pengurapan org sakit mana yaa?byk yg mnulis tntg sakramen tp kenapa urutannya saling berbeda?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: